AL-Qur’an
Menyebut Istilah (ma’) dalam bentuk
Nakiroh (Indefinite) dan (Al-Ma) dalam bentuk Ma’rifah (definite) yang berarti air sebanyak 59
kali. Sementara itu, Al-Qur’an menyebut (ma’ki),
airmu, satu kali; (ma’aba), airnya,
dua kali; dan (ma’ukum), air kalian,
satu kali.
Jadi,
secara keseluruhan Al-Qur’an mengulang istilah (ma’) atau air sebanyak 63 kali
yang tersebar dalam 42 surah. Hal ini mengisyaratkan bahwa air, menurut
Al-Qur’an, merupakan sumber kekayaan alam yang sangat penting, berharga, dan
memiliki daya guna dan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia,
binatang, dan tumbuhan.
Dalam
penjelasan Eksistensi Air, Al-Qur’an menggunakan beberapa kata kunci yang bias
menjadi petunjuk tentang proses terjadinya air, daya guna air, dan manfaat air
bagi kehidupan manusia.
Pertama, Al-Qur’an
menggunakan kata kunci anzala yang
berarti ‘menurunkan’, dan kata ini diulang hamper sebanyak penyebutan istilah al-ma’ atgau air dalam Al-Qur’an. Selain
menggunakan kata anzala Allah juga
menggunakan kata yang dekat maknanya dengan menurunkan, yaitu kata sabba yang berarti mencurahkan (air dari
langit). Subjek yang menjadi pelaku kata anzala
yakni menurunkan ini adalah Allah
yang diungkapkan dalam bentuk kata Allah Ismu
jalalah, kata ganti Kami atau Dia. Sementara asal air itu, disebutkan oleh
Al-Qur’an, minas-sama, dari langit;
sedangkan tempat yang menjadi penampungan air yang turun dari langit itu adalah
al-ard yaitu bumi.
Kedua, Al-Qur’an
menggunakan kata kunci asqa yang
berarti menyiram atau member minum. Sementara itu, yang menjadi subjek kata asqa ini adalah Allah atau kata ganti
seperti Dia dan Kami (Allah). kata kerja asqa
yang berarti menyiram dan member minum mengandung dua pengertian. Pertama,
dengan air yang diturunkan dari langit Allah menyiram tetumbuhan agar tumbuh
subur. Kedua, dengan air Allah member minum manusia dan hewan sehingga keduanya
mendapat kesempatan untuk menjaga kelangsungan hidup dan mengembangkan kualitas
hidupnya.
Ketiga, Al-Qur’an
menggunakan kata kunci ahya yang
berarti menghidupkan. Maksudnya bahwa tujuan Allah menurunkan air dari langit
ke bumi hingga sebagian air tersebut tersimpan dalam perut atau permukaan bumi,
bukan hanya untuk member minum manusia dan hewan, serta menyiram tumbuhan, akan
tetapi secara makro untuk menghidupkan bumi agar bumi menghasilkan manfaat yang
banyak bagi kehidupan manusia.
Keempat, AL-Qur’an
menggunakan kata kunci akhraja yang
berarti mengeluarkan. Maksudnya bahwa Allah SWT dengan menurunkan air dari
langit ke bumi, kemudian sebagian air itu tersimpan di dalam perut bumi atau
dipermukaannya sehingga bumi itu menjadi subur; maka tujuan akhirnya adalah
agar bumi itu mengeluarkan hasil-hasil bumi untuk kesejahteraan hidup manusia.
1. Siklus
Air

“Dan Dialah yang meniupkan angin
sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga
apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang
tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan
sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan
orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (al-A’raf : 57)
Siklus air menurut Ayat Al-Qur’an tas terjadi dalam tiga fase
yang melibatkan ar-riyah (angin), sahab (awan), dan rahmatih (kasih sayang-Nya
yaitu Hujan).
Fase
Pertama : Bumi yang dihuni
Manusia ini diselimuti oleh atmosfer atau lapisan udara. Sedangkan angin adalah
udara yang bergerak akibat adanya perbedaan tekanan udara. Angin bergerak di
tempat yang memiliki tekanan udara tinggi ke temoat yang memiliki tekanan udara
yang rendah, dengan pernyataan lain angin adalah udara yang bergerak dari
daerah yang memiliki suhu (temperature) rendah ke wilayah yang memiliki
temperature tinggi. Dengan demikian, angin adalah arus yang bergerak di antara
dua ozon yang memiliki susu yang berbeda, yakni zona yang dingin menuju zona
yang panas.
Angin terjadi karena pemanasan air samudra oleh sinar
matahari. Pnas matahari inilah yang menimbulkan tekanan udara sehingga bergerak
menjadi angin yang membawa dan menggiring uap air berkumpul ke atas menjadi
awan untuk kemudian berubah menjadi hujan, sebagaimana tergambar pada Ayat
Al-Qur;an berikut :
“Dan
Kami Jadikan pelita yang terang benderang (matahari), dan Kami turunkan dari
awan, air hujan yang tercurah dengan hebatnya” (An-Naba :13-14)
Angin bergerak membawa dan menggiring uap air, lalu
memadukannya menjadi awan mendung, sebagaimana disebutkan pada ayat :
“…….Sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau awan
mendung itu ke suatu daerah yang tandus, karena angin bergerak dari kawasan
yang dingin menuju kawasan yang panas, lalu Kami turunkan hujan didaerah itu” (Al-‘Araf:57).
Allah menegaskan bahwa salah satu karunia besar yang
dilimpahkan kepada Hamba-Nya adalah menggerakkan angin sebagai tanda bagi
kedatangan Nikmat-Nya (Hujan), yaitu angin yang membawa awan tebal yang
dihalaunya ke negeri yang kering yang telah rusak tanamannya karena ketiadaan air,
kering sumurnya karena tak ada hujan dan penduduknya menderita karena haus dan
lapar. Lalu dinegeri yang tandus itu, Allah menurunkan Hujan yang lebat
sehingga negeri yang hamper mati itu menjadi subur kembali dan sumur-sumurnya
penuh berisi air dan dengan demikianlah penduduknya dengan serba kecukupan dari
hasil tanaman yang melimpah.
Fase kedua : yang dimaksudkan dengan awan sering
didefinisikan sebagai kumpulan titik – titik uap air di atmosfer yang
berdiameter 0,02 sampai 0,06 mm yang berasal dari penguapan air laut, danau,
atau sungai. Awan atau kumpulan titik-titik uap air inilah yang dapat
menyebabkan hujan.
Sinar matahari yang yang panas permukaannya mencapai 6000
derajat dan panas pada pusatnya mencapai 30% juta derajat, yang menghasilkan
energy berupa ultraviolet 9%, cahaya 46%. Dengan demikian, matahari dinamakan
sebagai pelita yang sangat terang karena mengandug cahaya dan panas secara
bersamaan yang sangat dibutuhkan oleh atmosfer bumi, sehingga terjadi
keserasian antara cahaya sinar matahari dengan atmosfer, lapisan udara bumi.
Cahaya dan panas inilah yang menimbulkan tekanan udara sehingga udara itu
bergerk menjadi angin yang membawa dan menggiring uap air berkumpul keatas
menjadi awan kemudian menurunkan hujan sebagaimana disebutkan dalam ayat
Al-Qur’an :
dan
Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah
Dalam beberapa Ayat Al-Qur’an
diungkapkan bahwa awan sangat bergantung kepada angin. Anginlah yang
mengerakkan awan kemudian menurunkan hujan. Dalam temuan ilmuan modern sekarang
menjelaskan bahwa tidak hanya berfungsi menggerakkan awan, tetapi juga
mengawinkan gelembung udara bercampur partikel
dengan uap air hingga melahirkan hujan. Temuan ilmiah ini sejalan dengan
penjelasan Ayat Al-Qur’an sebagai berikut :
“Dan Kami telah meniupkan angin
untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum
kamu dengan (air) itu, dan bukanlah kamu yang menyimpannya. (Al-Hijr : 22)
Hal ini dapat dijelaskan secara
Ilmiah bahwa “di permukaan laut terbentuk gelembung udara dari buih-buih yang
tidak terhitung jumlahnya. Pada waktu gelembung udara ini pecah, ribuan
partikel kecil yang disebut aerosol dengan
diameter seperseratus millimeter terlempar ke udara, bercampur dengan debu
daratan yang terbawa oleh angin ke lapisan atmosfer. Partikel-partikel ini
dibawa naik keatas lebih tinggi lagi oleh angin hingga bertemu dengan uap
air.uap air yang mengembun disekitar partikel-partikel ini berubah menjadi
butiran-butiran air kemudian butiran-butiran air ini berkumpul dan membentuk sahaban siqalan (awan yang makin berat),
kemudian jatuh kebumi dalam bentuk hujan.
Fase Ketiga : (Hujan) Air yang mengandung mineral dan segar yang
diturunkan Allah dari awan melalui kekuasaan-Nya. Adapun yang dimaksud dengan
istilah (as-sama) yang menjadi sumber air hujan itu, menurut Asfahani adalah
tempat yang tinggi. Menurutnya, langit semua benda itu adalah bagian paling
tinggi dari benda tersebut. Secara sederhana air hujan itu turun dari tempat yang
tinggi. Berarti air hujan itu berasal dari awan yang berada ditempat tang
paling tinggi melalui mata rantai siklus air.
2.
Macam-Macam Air
Jika
Dilihat dari segi wujud dan tempat air dibumi, maka wujud air dapat dibagi
menjadi tiga bentuk : Cairan (air) pada, di atas, ataupun dibawah permukaan
tanah; es yang mengambang, dan awan diudara yang merupakan uap air. Air adalah
zat kimia yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat
ini di bumi, tetapi tidak diplanet lain. Air menutupi hamper 71 % permukaan
bumi. Terdapat 1,4 teriliun kilometer kubik (330 juta mil3) tersedia
dibumi. Air sebagian besar terdapat dilaut (air asin) dan pada lapisan-lapisan
es (dikutub dan puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan,
hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es.
Sementara macam-macam air dalam perspektif fiqih biasanya
dibahas dlam bab Taharah, yakni bab bersuci. Misalnya dalam Kitab Takrib
dijelaskan :
Air yang boleh digunakan untuk
thaharah ada 7: air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air dari mata air,
air salju, dan air embun.
Kemudian air dibagi menjadi 4 :
Air yang suci dan mensucikan dan tidak makruh (untuk bersuci) yaitu air
mutlak , air suci dan mensucikan tapi makruh (untuk bersuci) yaitu air
yang dipanasi di bawah matahari , air suci tidak mensucikan yaitu air
musta'mal (sudah dipakai) dan air yang sudah berubah karena bercampur dengan
benda-benda yang suci, dan air najis yaitu air yang tercampur dengan najis dan
jumlahnya kurang dari dua kullah atau lebih dari dua kullah namun berubah
kondisinya. Yang dimaksud dua kullah adalah 500 ratl bagdadi menurut pendapat
yang paling shahih.
Kemudian
dalam kitab Anwar Al-Masalik Syarh
“umadat as-salik dijelaskan :
“Air itu bermacam-macam. Air yang mensucikan,
air suci, dan air najis. Air yang mensucikan yaitu air yang suci pada
substansinya yang sekaligus mensucikan benda-benda lainnya. Sementara itu, air
suci adalah air yang suci pada dirinya, tetapi tidak dapat mensucikan benda-benda
lainnya. Adapun air najis adalah air yang tidak termasuk keduanya (bukan air
suci dan mensucikan dan juga air suci). Tidak diperbolehkan mengangkat hadas
dan menghilangkan najis kecuali dengan air mutlak, yaitu air suci dalam keadaan
sifat air yang asli sesuai dengan kejadiannya. (dalam fikih dimakruhkan menggunakan air dalam benjana yang terkena
panas sinar matahari dinegeri tropis; dan (status kemakruhan itu) hilang ketika
benjana itu menjadi dingin.”
Berdasarkan
kajian air yang dilakukan para ulama fikih, seperti diatas, maka dari
perspektif fikih air dibagi menjadi empat macam :
Pertama : Air Mutlak, yaitu air yang suci dan
mensucikan. Air mutlak adalah air yang yang biasa digunakan untuk mensucikan
diri dari hadas (hadas kecil dan hadas besar) seperti air air hujan, air laut,
dsb.
Kedua : Air Musta’mal, yaitu air yang sudah dipakai untuk mensucikan
diri dari hadas kecil maupun besar, maupun air yang sudah digunakan untuk
keperluan lain seperti mandi dan mensucikan benda-benda.
Ketiga : Air yang bercampur dengan benda-benda suci, misalnya air
yang bercampur dengan sabun dan tepung. Air yang semacam ini suci dan
mensucikan selama masih termasuk air mutlak. Jika kemutlakan air itu hilang
menjadi berwarna dan mengandung rasa seperti air the, air kopi, sirop, dsb maka
air semacam ini suci, tetapi tidak bias dipergunakan untuk mensucikan diri dari
hadas, dan tidak dapat dipergunakan untuk mensucikan untuk benda-benda lainnya.
Keempat : Air yang bercampur dengan najis. Jika benda najis merubah
sifat air, rasa, warna, dan bau maka air itu tidak lagi suci, tetapi berubah
menjadi najis. Adapun air yang dikelompokkan air najis atau muttanajis (terkena
naijs) adalah keadaan air itu sendiri.
Dari
berbagai perspektif fikih tentang air mendefinisikan air mutlak ditinjau dari
kajian ilmiah bahwa yang dimaksudnkan air mutlak yaitu air yang sebagai
subtansin kimia dengan rumus kimia H2O; atu molekul air tersusun atas dua atom
hydrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak
berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau pada kondisi standar yaitu pada
tekanan 100 kPa (1 bar) dan temperature 273,15 K (00C). zat kimia
ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk
melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti : garam, asam, beberapa jenis gas
dan banyak macam molekul organic.
Para
Ulama Fikih merinci bahwa yang termasuk ke dalam air mutlak ini adalah air
hujan, air tanah, air sungai, air danau, air laut dan air salju/es yang
keseluruhannya bersumber pada air hujan melalui siklus air seperti yang sudah
dijelaskan sebelumnya.
3.
Konservasi Air
Konservasi
air merupakan kebutuhan yang mendesak dan menjadi tanggung jawab semua pihak,
baik pemerintah maupun masyarakat. Hal ini didasarkan pada fakta ilmiah bahwa “
Jumlah air dibumi tetap, namun tidak dipelihara dengan manajemen yang baik,
maka akan terjadi kekurangan air di musim kemarau dan kelebihan air di musim
hujan karena siklus air menjadi tidak seimbang. Sebagian air itu ada dilaut
(air asin) dan pada lapisan-lapisan es (dikutub dan puncak gunung).
Air
merupakan unsure yang sangat vital dalam kehidupan, karena tanpa air
kelangsungan hidup tidak akan dapat bertahan. Kebutuhan air bersih merupakan
kebutuhan primer dalam kehidupan manusia. Bagi seorang Muslim, air bersih atau
air yang suci dan mensucikan itu bukan hanya untuk mandi dan mencuci, tetapi
juga untuk wudlu dan mandi junub.
Musim
kemarau adalah dampak terparah manusia membutuhkan air. Dimusim kemarau terjadi
kekeringan sehingga tanah-tanah menjai tandus, swah, kebun, dan lading tidak
bias ditanami. Para petani dan buruh tani mengalami krisis ekonomi karena tanah
mereka tidak berproduksi, sementara itu dimusim hujan terjadi banjir yang
menenggelamkan rumah, jalan, jembatan serta hasil pertanian.
Hal
ini terjadi karena perilaku manusia yang merasa kurang dan rakus
mengeksploitasi alam. Proses penggundulan hutan tidak sebanding dengan proses
penanaman kembali hutan. Penebangan liar, pencurian kayu, dan perubahan fungsi
hutan lindung menjadi hutan produksi, pembuangan sampah sembarang, serta
penyusutan daerah resapan air karena pembangunan rumah-rumah mewah dikawasan
hulu sungai yang tidak terkendali menjadi salah satu factor utama penyebab
banjing di musim hujan.
Tentang terjadi kerusakan lingkungan
atau ketidak seimbangan siklus air darat maupun di laut yang mengakibatkan
banjir dimusim hujan dan krisis air dimusim kemarau ditegaskan oleh AL-Qur’an
sebagai berikut :
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan
karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka
sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang
benar).” (Ar-Ruum : 41)
Manusia perlu menyadari tanggung jawab
sosialnya dalam konservasi air dengan memberikan kontribusi pemikiran,
penyadaran pendidikan masyarakat dan terlibat dalam berbagai kegiatan guna
merawat sumber air dan prasarana sumber daya air yang ditujukan untuk menjamin
kelestarian fungsi sumber air dan prasarana sumber daya air.
Kegiatan
konservasi ini dapat diwujudkan dalam bentuk perlindungan dan pelestarian
sumber air, pengawetan air, serta pengolahan kualitas air dan pengendalian
pencemaran air dengan mengacu pada pola pengelolaan sumber daya air yang
ditetapkan pada wilayah sungai.
4.
Manfaat Air Bagi Kehidupan
Secara umu air merupakan unsur yang
sangat vital dalam kehidupan, karena tanpa air keberlangsungan hidup tidak akan
dapat bertahan. Hal ini ditegaskan Allah SWT secara tersurat pada Ayat
Al-Qur’an sebagai berikut :
![]() |
“Dan apakah orang-orang yang kafir
tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu
yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan
segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Al-Anbiya : 30)
Secara
khusus dapat dijelaskan bahwa air memiliki manfaat dan kegunaan dalam kehidupan
manusia :
Pertama : Allah menyatakan bahwa salah satu
manfaat air adalah sarana untuk bersuci atau membersihkan diri lahir dan
batin. Dinyatakan dalam Al-Qur’an
sebagai berikut :
“ dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk
mensucikan kamu dengan hujan itu “
(Al-Anfaal : 11)
“Maka terangkanlah kepadaku tentang
air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang
menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka
mengapakah kamu tidak bersyukur?” (Al-Wqi’ah
: 68-70)
Kebutuhan air bersih untuk diminum merupakan kebutuhan primer
dalam kehidupan manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Air adalah komponen yang
sangat dibutuhkan tubuh. Ternyata lebih dari sekedar menghilangkn rasa hasu,
minum air 8-10 gelas sehari secara rutin membuat berbagai system yang terdapat
dalam tubuh kita bekerja secara optimal sebagai berikut :
a.
Kulit
Sehat. Minum cukup air dapat menjaga kelmebapan
kulit akibat pengaruh udara panas (ultraviolet). Air sangat penting untuk
menjaga elastisitas dan kelembutan kulit, serta mencegah kekeringan.
b.
Melindungi
dan melumasi gerakan sendi otot. Sebagian besar
cairan yang melindungi dan melumasi gerakan sendi otot terdiri dari air.
Mengkonsumsi air sebelum, selama dan setelah melakukan aktivitas fisik, berarti
meminimalkan resiko kejang otot dan kelelahan.
c.
Menjaga
kesetabilan suhu tubuh. Keringat adalah
mekanisme alamiah untuk mengendalikan suhu tubuh. Agar dapat berkeringat, tubuh
membutuhkan cukup banyak air.
d.
Membersihkan
racun. Asupan air yang cukup dapat membantu
proses pembuangan racun yang terjadi pada ginjal dan hati.
e.
Menstabilkan
Pembuangan. Konsumsi air yang cukup akan
membantu kerja system pencernaan didalam usus Besar. Proses ini akan mencegah
gangguan pembuangan (konstipasi), karena gerakan usus menjadi lebih lancer,
sehingga feses mudah dikeluarkan.
Ketiga : Air Bermanfaat untuk pertanian. Air
selalu menjadi factor yang menentukan tingkat keberhasilan pertanian.
Keempat : Air memiliki sumber daya yang
demikian besar untuk menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Kesemuanya
dipercayakan kepada manusia untuk dijaga keseimbangannya dabgi kesejahteraan
dan kelangsungan hidup manusia. Mengapa manusia merusaknya? Mengapa manusia
tidak bersahabat dengan air padahal membutuhkannya? Lalu dimusim hujan, air
dating mengambil tempatnya yang dirampas manusia. Air menjadi marah kepada
manusia. Menenggelamkan rumah, bangunan, jalan, jembatan, sawah, dan lading
serta berbagai insfrastruktut yang dibangun susah payah dengan uang rakyat?
Mengapa
masih belum sadar juga? Lalu, dimusim kemarau air menghilang, karena tempat
penampungannya kosong. Hutan digunduli dan resapan air dialih fungsi, dan
membuang sampah sembarangan. Mengapa manusia terus melakukannya, padahal
mengancam kelangsungan hidupnya?
Sungguh
manusia makhluk yang dzalim dan bodoh (Al-Ahzab:72). Sadarlah dab berbuatlah
untuk memelihara sumber daya air. Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah,
ahli sains, dan Ulama. Akan tetapi tanggung jawab semuanya. Wallahu ‘Alam Bis-sawab


Posting Komentar